Advertisement
![]() |
| Foto : net |
BATHIN SOLAPAN, Lintaskriminal.com — Niat baik bpk Presiden Prabowo ingin menyehatkan anak bangsa denagan cara memberi makanan bergizi Gratis, tapi selalu ada rintangan seperti yang dialami sejumlah siswa SMK 03 Mandau setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (16/9/2026) menjadi menjadi firal di Medsos dan media online.
Setelah mendapat laporan dari keluarga Korban pelajar SMK 03 Mandau jalan Lintas Duri Dumai kecamatan Bathin Solapan warga KM 19 jalan Lintas Duri Dumai sampai kemaren Ssbtu (19/09/26) masih tergeleetak Lemas dirumah,
Saat dikonfirmasi kesekolah SMKN 03 Mandau pada Jumat pagi (17/9), pihak sekolah membenarkan ada sekitar puluhan siswanya dan belasan orang guru mengalami kejadian serupa mual muntah dan diare, kuat dugaan disebabkan setelah konsumsi MBG, tetapi menurut keterangan anak anak gejalanya mulai terasa pada malam hari sampai Kamis pagi sebagian sudah ditangani tim kesehatan sekolah ada yang sudah mulai reda Namun ada juga yang belum maka di larikan ke Klinik Hayati, untuk jumlah korban kepsek terkesan ada tekanan untuk tidak memaparkan yang sebenarnya hanya mengatakan julahnya Puluhan dan guru belasan.
"Kita belum bisa mengatakan hal ini Keracunan karena kita bukan orang medis, dari kepolisian Koramil dan dari Polda pun sudah kesini, sampel sudah diambil untuk pemeriksaan serta keterangan resmi dari instansi berwenang." papar Subagio kepsek SMKN 03.
Penelusuran kemudian dilakukan kepada Kepala SPPG Boy, selaku pengelola dapur MBG Yayasan Anak Bangsa Berdaulat yang menyuplai makanan ke enam sekolah di Kecamatan Bathin Solapan.
Menurut keterangan Kepala SPPG, keesokan harinya pihaknya menerima laporan dari pihak sekolah mengenai sejumlah siswanya mengalami gangguan kesehatan yang sama, reaksinya mulai terasa pada malam hari diduga di sebabkan karena MBG "Mendengar lapor tersebut kami langsung meluuncur kesekolah memang ada sekitar 47 oang kami larikan ke klinik Hayati sekitar jam 2 sore mereka sudah pulang, ada juga yang sudah di obati di sekolah sudah mulai membaik, dilaporkan yang terdampak sekitar 100 san orang," ujar Boy
sehingga terdapat perbedaan jumlah korban dengan keterangan pihak sekolah
Perbedaan data tersebut terkesan ada yang di tutupi, padahal ini perlu harus dijelaskan secara terbuka.
Boy menambahkan menu MBG pada hari Rabu tersebut terdiri dari nasi putih, daging oseng pedas manis, tempe mendoan, cak brokoli tomat wortel, dan buah jeruk, biasanya sebelum di antar saya dulu yang makan tapi pada itu kebetulan saya pergi ada pertemuan diluar." ulas Boy
Ketika ditanyakan mengenai sampel makanan, pihak SPPG menyampaikan bahwa sampel tersebut telah dibuang karena dianggap sudah melewati batas waktu penyimpanan lebih dari 1 X 24 jam.
Kondisi ini tentu menjadi pertanyaan publik: apakah masih tersedia bukti atau sampel lain yang dapat diperiksa untuk memastikan kualitas dan keamanan makanan yang dibagikan kepada para siswa?
Penelusuran awak media juga dilakukan ke Klinik Hayati yang berada tidak jauh dari lokasi dapur MBG. Pihak klinik membenarkan adanya siswa SMK yang datang untuk mendapatkan pemeriksaan pada pagi itu, setelah mendapat pertolongan sekitar pukul 02.00 WIB sudah kembali pulang.
Menurut pihak klinik, total terdapat 47 siswa yang diperiksa terkait kejadian tersebut. Keluhan yang dialami korban disebut berupa diare mual muntah dan berdasarkan pemeriksaan klinik dikategorikan sebagai diare biasa.
Meski demikian, rangkaian keterangan tersebut belum bisa di ambil kesimpulan dengan sendirinya membuktikan bahwa MBG merupakan penyebab gangguan kesehatan para siswa.
Karena itu, Dinas Kesehatan, pihak sekolah, SPPG/Badan Gizi Nasional, serta pihak terkait perlu memastikan penyebabnya melalui pemeriksaan medis dan, apabila diperlukan, uji laboratorium terhadap makanan maupun sampel yang masih tersedia.
Publik juga berhak memperoleh penjelasan mengenai standar pengadaan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, waktu makanan sampai ke sekolah, hingga mekanisme pengawasan keamanan pangan.
Setelah berita naik esok harinya Pihak MBG meralat melalui WA Tiim Jurnalis, bahwa korban berjumlah 401 orang Siswa dan Guru.
(Wis 007)


